Jumat, 30 November 2012

JURNAL II


ANALISIS PENGARUH KUALITAS PELAYANAN
TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN
MENGGUNAKAN JASA PENGINAPAN (VILLA)
AGROWISATA KEBUN TEH PAGILARAN

Pengarang : RATIH HARDIYATI
2010

Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi, produk atau jasa yang bersaing dalam satu pasar semakin banyak dan beragam akibat keterbukaan pasar. Sehingga terjadilah persaingan antar produsen untuk dapat memenuhi kebutuan konsumen serta memberikan kepuasan kepada pelanggan secara maksimal, karena pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah untuk menciptakan rasa puas pada pelanggan. Salah satu tindakan untuk memuaskan konsumen adalah dengan cara memberikan pelayanan kepada konsumen dengan sebaik-baiknya. Kenyataan ini bisa dilihat, bahwa ada beberapa hal yang dapat memberikan kepuasan pelanggan yaitu nilai total pelanggan yag terdiri dari nilai produk, nilai pelayanan, nilai personal, nilai image atau citra, dan biaya total pelanggan yang terdiri dari biaya moneter, biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya pikiran (Kotler, 2000:50).    Dengan adanya kualitas pelayanan yang baik di dalam suatu perusahaan, akan menciptakan kepuasan bagi para konsumennya. Setelah konsumen merasa puas dengan produk atau jasa yang diterimanya, konsumen akan membandingkan pelayanan yang diberikan. Apabila konsumen merasa benar-benar puas, mereka akan membeli ulang serta memberi rekomendasi kepada orang lain untuk membeli di tempat yang sama. Oleh karena itu perusahaan harus memulai memikirkan pentingnya pelayanan pelanggan secara lebih matang melaui kualitas pelayanan, karena kini semakin disadari bahwa pelayanan (kepuasan pelanggan) merupakan aspek vital dalam rangka bertahan dalam bisnis dan memenangkan persaingan (Tjiptono, 2004:145). Bersamaan dengan adanya perubahan lingkungan yang terjadi dan adanya perubahan perilaku manusia, dan aktivitas manusia yang semakin padat setiap harinya, maka semakin mendorong bertambahnya permintaan akan kebutuhan rekreasi. Apalagi kebisingan dan terjadinya polusi di kota membuat manusia ingin mencari suasana yang lebih tenang dan jauh dari polusi, daerah pegunungan menjadi pilihan bagi mereka. Semakin bertambahnya permintaan konsumen akan mendorong para pengusaha di bidang pariwisata khususnya Agrowisata Kebun Teh Pagilaran untuk ikut bersaing menawarkan kelebihan-kelebihannya. Banyak faktor yang perlu diperhatikan untuk mempengaruhi konsumen salah satunya kualitas pelayanan Agrowisata Kebun Teh Pagilaran itu sendiri yang dapat diberikan oleh perusahaan, sehingga konsumen merasa terpuaskan. Agrowisata Kebun Teh Pagilaran yang merupakan salah satu pariwisata alam di Jawa Tengah yang sudah terkenal sampai ke luar kota. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung dari luar daerah kota Batang seperti misalnya: Salatiga, Semarang, Jakarta, dan Cirebon, yang datang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di daerah wisata tersebut.
 Oleh karena itu Agrowisata Kebun Teh Pagilaran harus selalu memperhatikan kebutuhan dan kepuasan para konsumen  dengan memberikan pelayanan yang terbaik agar para konsumen merasa puas dan dapat merekomendasikannya kepada orang lain. Agrowisata Kebun Teh Pagilaran merupakan tempat pariwisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan dari dalam kota Batang maupun luar kota Batang. Agrowisata Kebun Teh Pagilaran ini kerap kali penuh pada hari-hari tertentu bagi pengunjung yang ingin berlibur atau yang ingin melakukan kunjungan ilmiah.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah  yang telah dikemukakan sebelumnya, permasalahan yang dihadapi oleh Agrowisata Kebun Teh Pagilaran adalah jumlah tamu menginap yang mengalami fluktuasi selama tahun 2008. Hal ini dimungkinkan terjadi karena kurang lengkapnya fasilitas yang ditawarkan oleh villa Agrowisata Kebun Teh Pagilaran, receptionist kurang cepat dalam melayani tamu, karyawan dan staf kurang ramah dalam melayani pelanggan, dimana sebab-sebab tersebut kemungkinan merupakan faktor kualitas pelayanan Agrowisata Kebun Teh Pagilaran.
Merujuk pada pendahuluan, dapat ditarik beberapa pertanyaan penelitian, antara lain :
1.  Bagaimana pengaruh tangible terhadap kepuasan konsumen?
2.  Bagaimana pengaruh reliability terhadap kepuasan konsumen?
3.  Bagaimana pengaruh responsiveness terhadap kepuasan konsumen? 
4.  Bagaimana pengaruh assurance terhadap kepuasan konsumen?
5.  Bagaimana pengaruh empathy terhadap kepuasan konsumen?

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian
ini adalah   :
1.  Untuk menganalisis pengaruh variabel tangible terhadap kepuasan konsumen. 
2.  Untuk menganalisis pengaruh variabel  reliability terhadap kepuasan konsumen.
3.  Untuk menganalisis pengaruh variabel  responsiveness terhadap kepuasan konsumen.
 4.  Untuk menganalisis pengaruh variabel  assurance terhadap kepuasan konsumen.
5.  Untuk menganalisis pengaruh variabel empathy terhadap kepuasan konsumen.

METODE PENELITIAN
 Variabel dependen
 Variabel dependen adalah variabel yang menjadi pusat perhatian utama peneliti. Hakekat sebuah masalah mudah terlihat dnegan mengenali berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model. Variabilitas dari atau atas faktor inilah yang berusaha untuk dijelaskan oleh seorang peneliti (Ferdinand, 2006:26). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah : kepuasan konsumen ( Y )
Variabel Independen
 Variabel independen yang dilambangkan dengan (X) adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik  yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006:26). Variabel independen dalam penelitian ini adalah :
  - Tangible  (X1)
 -  Reliability  ( X2)
 -  Responsiveness  ( X3)
 -  Assurance (X4)
 -  Emphaty (X5)

HASIL DAN PEMBAHASAN
Perusahaan Perkebunan Perindustrian dan Perdagangan Pagilaran dulunya adalah suatu perkebunan yang dikelola oleh  E. Blink seorang warga Belanda. Pada tahun 1840 E. Blink membuka hutan budidaya tanaman kina dan kopi. Karena tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka pada tahun 1899 tanaman kina dan kopi diganti dengan tanaman teh dan ternyata tanaman teh ini memberikan hasil yang cukup baik. Dalam perkembangannya hak milik perusahaan diganti dengan maskapai Belanda yang berpusat di Semarang. Perkebunan teh ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tanah atau areal perkebunan bertambah luas yaitu dengan cara melelang tanah-tanah desa disekitas perkebunan.  Pada tahun 1920, Belanda mengalami kebangkrutan karena pabrik pengolahan terbakar. Kemudian pada tahun 1922 pabrik dibeli oleh pemerintah Inggris dan bergabung dengan P&T Lands (Pamanukan dan Tjlasem Lands). Pada tahun 1942, Indonesia dikuasai oleh Pemerintah Jepang, akibatnya tanaman teh 52 yang ada di perkebunan Pagilaran diganti dengan tanaman jagung. Pergantian tanaman ini digunakan untuk cadangan makanan tentara Jepang dalam Perang Dunia II.  Pada tahun 1945, Jepang meninggalkan Indonesia, akhirnya pabrik ini dibakar. Hal ini dalam rangka strategi perang. Pada tahun 1947, perkebunan dikuasai oleh tentara Republik Indonesia dan pada tahun 1947 pabrik dibakar.
Tahun 1948, perkebunan dikelola oleh Pemerintah Inggris dan dibangun kembali dengan alat lama. Pada tanggal 23 Mei 1964, perkebunan diserahkan pada Pemerintah RI karena Hak Guna Usahanya sudah habis.  Dari Pemerintah RI, perkebunan diserahkan pada Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada sebagai tempat penelitian sekaligus sebagai perusahaan dan diberi nama Perusahaan Negara Pagilaran. Pada tanggal 1 Januari 1973, status Perusahaan Negara diubah menjadi PT Perkebunan Perindustrian dan Perdagangan Pagilaran. Pada tanggal 5 Mei 1977, perusahaan ini mendapat tambahan areal Segayung Utara menjadi bagian dari kebun Pagilaran dengan Surat Keputusan dengan No. 14/HGU/DA/77. Berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, diketahui adanya potensi lahan di daerah dataran tinggi Dieng, yang memenuhi persyaratan tumbuh bagi tanaman teh. Dalam hal ini, PT Pagilaran mendapat tugas dari Pemerintah melalui Menteri Pertanian dengan SK No. KB 340/97/Mentan untuk menjadi pelaksana pengembangan pertanaman the dan kelanjutannya dibentuklah PIR (Perusahaan Inti Rakyat) dengan PT Pagilaran sebagai perusahaan intinya.
Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan pada penelitian ini, didapat persamaan regresi sebagai berikut: Y = 0,271 X1 + 0,197 X2 + 0,201 X3  +  0,316 X4 + 0,165 X5 Dari persamaan regresi tersebut dapat diketahui bahwa koefisien dari persamaan regresi adalah positif. Maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.  Hasil analisis diperoleh bahwa variabel bukti fisik (X1) memiliki koefisien regresi sebesar 0,271 (bertanda positif) terhadap kepuasan konsumen (Y) dan nilai thitung  sebesar 3,430 dengan tingkat signifikansi 0,001 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa bukti fisik (X1) berpengaruh positif  terhadap kepuasan konsumen (Y). Dengan demikian Hipotesis 1 yang menyatakan bahwa bukti fisik (X1) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y) dapat diterima.
2.  Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kehandalan  (X2) memiliki koefisien regresi sebesar 0,197 (bertanda positif) terhadap kepuasan konsumen (Y) dan nilai thitung  sebesar 2,318 dengan tingkat signifikansi 0,023 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kehandalan (X2) berpengaruh positif terhadap kepuasan 95 konsumen (Y). Dengan demikian Hipotesis 2 yang menyatakan bahwa kehandalan (X2) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y) dapat diterima.
3.  Hasil analisis diperoleh bahwa variabel daya tanggap (X3) memiliki koefisien regresi sebesar 0,201 (bertanda positif)  terhadap kepuasan konsumen (Y) dan nilai thitung sebesar 2,688 dengan tingkat signifikansi 0,008 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa daya tanggap (X3) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y). Dengan demikian Hipotesis 3 yang menyatakan bahwa daya tanggap (X3) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y) dapat diterima.         
4.  Hasil analisis diperoleh bahwa variabel jaminan (X4) memiliki koefisien regresi sebesar 0,316 (bertanda positif) terhadap kepuasan konsumen (Y) dan nilai thitung  sebesar 3,959 dengan tingkat signifikansi 0,000 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa jaminan (X4) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y). Dengan demikian Hipotesis 4 yang menyatakan bahwa jaminan (X4) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y) dapat diterima.
5.  Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kepedulian  (X5) memiliki koefisien regresi sebesar 0,165 (bertanda positif) terhadap kepuasan konsumen (Y) dan nilai thitung  sebesar 2,095 dengan tingkat signifikansi 0,039 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kepedulian (X5) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y). Dengan demikian Hipotesis 5 yang menyatakan bahwa  kepedulian (X5) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen (Y) dapat diterima.
6.  Nilai Adjusted R square diperoleh sebesar 0,517. Hal ini berarti bahwa 51,7% kepuasan konsumen (Y) dapat dijelaskan oleh variabel bukti fisik (X1), kehandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan kepedulian (X5). Sedangkan 48,3% dapat dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar